Serunya Jadi Panitia Qurban

10 Juli 2022.  Pesantren Media, Parung, Bogor.

          Qurban Day.

          Hari kematian bagi seluruh rakyat hewan ternak.  Hehe.  Emang iya, bener juga.  Jadi beberapa hari lalu itu kan ada hari besar bagi ummat islam. “Iedul Adha”.

          Banyak buangeet nyawa-nyawa sapi, kambing mungkin juga unta diseluruh belahan dunia yang melayang alias ‘minggat’ dari jasadnya dan menuju ke akhirat.  Hewan-hewan yang dibolehkan oleh agama islam untuk diqurbankan, inshaAllah akan menjadi kendaraan diakhirat kelak. Amiin.

          Dan pastinya kalian tidak boleh melupakan salah satu bagian di wilayah sini.  Pesantren media juga ikut join niiih.

          Naah, karna di sini juga mengadakan acara pemotongan hewan qurban, yang sebelumnya dilalui dengan puasa Arafah di hari jumat, dan shalat iedul adha di hari sabtunya.  Maka keesokan harinya giliran acara penyembelihan qurban.

          Lumayan lah ada Sembilan ekor kambing.  Dari banyak orang yang menyumbang, memberikan hewan-hewan itu untuk diproses di sini.

         Jika kalian bertanya bagaimana keseruan, apa yang kita lakukan, agenda-agenda dan pengalaman lainnya.  Sudah sangat valid bahwa itu menyenangkan juga menjadi pelajaran. 

          Kira-kira begini:

          Sebelum terlaksanakannya pemotongan ini, pastinya hewan yang mau diqurban mesti ada ditempat, betul? Maka dari situ lah mulai hari sebelumnya para pasukan hewan ini menghadiri persepsi pemotongan.  Kita mulai mencarikan tempat terenak baginya meneduh alias ngetem terakhir sebelum meninggoy.  Malam harinya kita ganti-gantian untuk menjaganya, dibagi tim dan itu bagian paling serunya.  Bayangin aja malam-malam sampai jam 1-2-3 lho, kita mantengin itu kambing (mungkin) tidur, bermimpi yang disertai ngorok (emang kambing ngorok?).

          Dan itu di tengah keboon!

          Banyak nyamuk broo!  Belum lagi kalau ada kambing yang merengek minta makan, minum juga pijit (bisa jadi).  Tidak lupa dengan kambing yang kabur, lari akibat tali yang putus.  Jadi marathon deh sama tuh embiik.

          Juga pas nanti hari penyembelihan.  Kita mesti menyiapkan tempat senyaman-nyamannya buat tuh kambing.  Seperti nantinya kita memanggil bala bantuan dari tim penyelenggara pemotongan, yang ahlinya.  Bambu atau kayu buat mayat kambing yang bakal dikulitin, kuburan atau kubangan untuk darah, isi jeroan (yaa choco chips itu lah).

          Ada juga antrean untuk para kambing ini.  Kan gak bisa sekaligus semuannya, repot.

          Saat acara pemutusan dua urat nadi ini ada ustadz kami yang mengajarkan bagaimana cara memutuskannya, MENGGOROK LEHER!  HOHOHOHO

          Nah kan mudir PM juga kebagian tuh buat motong, kambing milik beliau.  Bukan begitu ustadz?  Beuuh pas itu kan ustadz Oleh ngomong kalau “ini pengalaman pertama”, ane rasa tuh rasa gugupnya sampai nular ke ane.  Ane juga sebenernya pengen buat ngegorok, tapi ya itu, kalau salah motong atau yang putus cuma satu, kan barabe?

          Sampai muncrat-muncrat itu darah.

          Jadi tukang asah adalah job tak lepas dariku.  Yeah, setiap ada yang kudul atau kurang tajam maka; “fan, tolong yaa”.  Seneng-seneng aja sih.  Terus pengulitan, motong-motong, dipisahin daging sama tulang, dibagi rata.  Dan seterusnya, dan lainnya.

          Agenda yang paling memberikan pengalaman dan itu paling dinantikan; MAKAN-MAKAN dan BAKAR-BAKAR!  Party Time gitu looh. [Muhammad Zharfan Ibrahim, asal Bogor, Jawa Barat, kelas 12]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: